Tentang Desa
Visi & Misi
Visi
"Gotong royong, membangun Desa Jiwut yang jujur, adil, sejahtera, berbudaya dan berakhlak mulia"
Misi
- Mempublikasikan setiap anggaran kegiatan agar masyarakat mengetahui semua kegiatan pemerintah desa
- Melaksanakan musyawarah dusun untuk menampung aspirasi masyarakat
- Meningkatkan kapasitas perangkat desa
- Mewujudkan perekonomian dan kesejahteraan warga desa
- Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat desa yang maksimal
- Meningkatkan kehidupan desa secara dinamis dalam segi keagamaan dan kebudayaan
Sejarah Desa
Sejarah Desa Jiwut diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi, sering kali dikaitkan dengan kisah-kisah asal-usul tempat yang dianggap sakral. Desa Jiwut terdiri dari lima dusun, masing-masing punya riwayat asal-usulnya sendiri.
Asal Usul Wilayah
Dusun Ngrobyong
Konon, dahulu di wilayah ini tumbuh sebatang pohon durian yang usianya sudah sangat tua, tingginya menjulang dan batangnya besar melebihi pohon-pohon di sekitarnya. Setiap kali musim berbuah tiba, buahnya begitu lebat dan rimbun (dalam bahasa Jawa disebut "ngrembuyung") hingga cabang-cabangnya merunduk menyentuh tanah. Karena kelebatannya itu, pohon durian tersebut bahkan bisa terlihat jelas dari daerah-daerah tetangga yang berjarak cukup jauh, sehingga dijadikan penanda arah bagi orang-orang yang hendak menuju ke wilayah ini. Dari kata "ngrembuyung" itulah, lambat laun masyarakat setempat menyebut wilayah ini sebagai Ngrobyong, sebuah nama yang tetap dipakai hingga sekarang sebagai identitas dusun.
Dusun Darungan
Kisah asal-usul dusun ini bermula dari seorang perantau asal Solo bernama Karso Suwito. Ia berangkat dari wilayah Ngrobyong dengan tujuan membuka lahan (babat alas) di sisi selatan, namun dalam perjalanannya ia justru tersesat dan terus terbawa hingga jauh dari arah yang ditujunya semula. Dalam bahasa Jawa, kondisi "terbawa arus" atau "tersesat tanpa arah yang jelas" ini disebut dengan istilah "kedlarung-darung". Karena peristiwa itulah, wilayah tempat Karso Suwito akhirnya menetap dan membuka pemukiman baru kemudian dikenal dengan nama Darungan, sebagai kenangan atas perjalanannya yang penuh liku tersebut.
Dusun Klampok
Wilayah ini pertama kali dibuka oleh seorang tokoh bernama Ngerpani, yang datang bersama ayahnya, Nurkaiman, untuk mencari lahan baru yang bisa digarap dan ditinggali. Saat menyusuri kawasan ini, mereka mendapati bahwa di area barat daya, tepatnya di sekitar yang kini dikenal sebagai Sumber Soko, tumbuh sangat banyak pohon klampok atau jambu yang berbuah lebat sepanjang tahun. Melimpahnya pohon klampok inilah yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus asal-muasal nama wilayah tersebut, yang hingga kini dikenal dengan nama Dusun Klampok.
Dusun Jiwut
Nama dusun ini berasal dari keberadaan sebatang pohon Kuwut yang tumbuh tinggi menjulang dan berbatang besar di sisi tenggara wilayah. Yang membuat pohon ini istimewa adalah statusnya sebagai satu-satunya pohon Kuwut yang tumbuh di seluruh daerah tersebut, menjadikannya penanda alam yang unik dan mudah dikenali oleh warga sekitar maupun pendatang. Karena keunikan itulah, wilayah di sekitar pohon tersebut kemudian dinamai Jiwut, dan nama ini pula yang akhirnya dipakai sebagai nama Desa Jiwut secara keseluruhan, lengkap dengan lambang desa berupa Pohon Kuwut yang menjadi simbol identitas hingga hari ini.
Dusun Bendil
Berbeda dengan dusun lainnya, Dusun Bendil sebenarnya merupakan gabungan dari tiga wilayah yang awalnya memiliki sebutan masing-masing, yaitu Baran, Sumberjo, dan Bendil. Wilayah Baran mula-mula menjadi tempat menetap para perantau atau orang "boro" yang datang untuk bekerja di area sekitarnya. Sebagian besar dari mereka kemudian membuka lahan baru di dua wilayah lain: Sumberjo, yang namanya berasal dari ungkapan "sumbere rejo" karena daerah ini kaya akan sumber mata air yang menghidupi pertanian di sekitarnya, dan Bendil, yang terletak di selatan Sumberjo. Di wilayah Bendil ini, area persawahan setempat dikenal banyak dihuni ikan lele yang sering terlihat berkumpul (dalam bahasa Jawa disebut "ngendil"), sehingga daerah tersebut dinamai Bendil. Seiring waktu, ketiga wilayah dengan sejarahnya masing-masing ini disatukan menjadi satu kesatuan wilayah administratif yang kini dikenal sebagai Dusun Bendil.
Berdirinya Desa Jiwut diperkirakan pada pertengahan abad ke-18, diawali kedatangan pengembara dari Surakarta yang menempati wilayah Ngrobyong dan Baran. Kelompok di Baran membuka wilayah Jiwut, Sumberjo, dan Bendil, sementara kelompok di Ngrobyong membuka Darungan dan Klampok. Pada tahun 1895, kelima dusun tersebut resmi disatukan menjadi satu wilayah desa bernama Desa Jiwut, dengan lambang desa berupa Pohon Kuwut. Balai Desa pertama berada di Dusun Jiwut, tepatnya di lokasi yang kini digunakan sebagai Masjid Baitussalam.
Sejarah Pemerintahan Desa
Sebagai bagian dari Kecamatan Nglegok dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sistem pemerintahan Desa Jiwut mengalami beberapa fase perubahan mengikuti regulasi nasional:
Sebelum UU No. 5 Tahun 1979
Pemerintahan desa masih memakai tradisi lama dengan sebutan Lurah, Carik, Kamituwo, Kebayan, Jogotirto, Jogoboyo, dan Modin.
UU No. 5 Tahun 1979
Struktur pemerintah desa diseragamkan secara nasional: Kepala Desa (masa jabatan 8 tahun), Sekretaris Desa, Kepala Urusan, dan Kamituwo. Lembaga legislatifnya adalah Lembaga Musyawarah Desa (LMD).
UU No. 22 Tahun 1999
Masa jabatan Kepala Desa menjadi 2 x 5 tahun (10 tahun). Legislatif berubah menjadi Badan Perwakilan Desa (BPD).
UU No. 32 Tahun 2004
Masa jabatan Kepala Desa menjadi 6 tahun, Sekretaris Desa diisi oleh PNS Kabupaten. BPD berubah nama menjadi Badan Permusyawaratan Desa.
UU No. 6 Tahun 2014 — Sekarang
Masa jabatan Kepala Desa tetap 6 tahun, aturan ini yang masih berlaku hingga saat ini.
Daftar Kepala Desa Jiwut
| No | Nama Kepala Desa | Masa Jabatan |
|---|---|---|
| 1 | Goeno Karijo Redjo | 1895 – 1905 |
| 2 | Iro Dikromo | 1905 – 1922 |
| 3 | Djoyo Sentono | 1922 – 1932 |
| 4 | H. Djaelani | 1932 – 1949 |
| 5 | Soeradji | 1945 – 1972 |
| 6 | Hadi Poernomo | 1972 – 1989 |
| 7 | Zaenudin | 1989 – 1997 |
| 8 | Muh. Fakih Hudin | 1998 – 2013 |
| 9 | Kasbolah | 2013 – 2019 |
| 10 | Yanwar | 2019 – Sekarang |
Tokoh yang Berpengaruh Terhadap Kemajuan Desa
| Nama Tokoh | Alamat | Tahun | Unsur |
|---|---|---|---|
| Sanusi | RT2 RW8 | 1930-2005 | - |
| H. Dimyati | RT3 RW6 | 1935-1980 | Agama |
| H. Danuri | RT3 RW5 | 1935-1975 | Agama |
| H. Achmad Soelaiman | RT1 RW8 | 1940–1970 | Agama |
| H. Achmad Dahlan | RT3 RW5 | 1950–1985 | Agama |
| H. Toyib | RT2 RW8 | 1945–1985 | Agama |
| H. Mudjadi | RT1 RW9 | 1960–1985 | Agama |
| Lehar | RT2 RW10 | 1955–1990 | - |
| Mujoharjo | RT1 RW10 | 1955–1990 | Petani |
| Teguh Daman | RT3 RW3 | 1970–2002 | Seni |
| Hono Wijoyo | RT1 RW7 | 1980–sekarang | LPPD |
| Abdul Azis | RT2 RW2 | 1980–2002 | LMD |
| H. Ichwanudin | RT2 RW7 | 1980–sekarang | Agama |
| Mawardi | RT2 RW8 | 1985–sekarang | Agama |
| H. Suryadi | RT3 RW5 | 1985–sekarang | LPPD |
| Zainudin | RT1 RW4 | 1987–sekarang | Agama |
| Sapon | RT1 RW4 | 1990–sekarang | BPD |
| Mu'anaf | RT2 RW3 | 1990–sekarang | Agama |
| Tami | RT3 RW1 | 1990–sekarang | Agama |
| Kasir Pujianto | RT3 RW1 | 1990–sekarang | Petani |
Kondisi Geografis
409
Ha Luas Total
196.70
Ha Lahan Sawah
165.60
Ha Bukan Sawah
71.60
Ha Non Pertanian
Letak & Topografi
- Koordinat7°21'–7°31' LS, 111°10'–111°40' BT
- Ketinggian± 183 mdpl
- TopografiDataran sedang
- Curah hujan rata-rata811,41 mm/tahun
- Jarak ke kecamatan1,7 km (± 5 menit)
- Jarak ke kabupaten6 km (± 15 menit)
Batas Wilayah
Utara
Kelurahan Nglegok
Selatan
Kel. Sentul, Kec. Kepanjen Kidul, Kota Blitar
Barat
Desa Krenceng & Bangsri
Timur
Kel. Tawangsari & Desa Pojok, Kec. Garum
Pertanian & Pengairan
Sebagian besar sawah di Desa Jiwut menggunakan irigasi teknis, non-teknis, maupun sederhana. Tanaman padi ditanam pada musim penghujan, sedangkan jagung, sayur mayur, dan kacang tanah ditanam pada musim kemarau. Pengelolaan air di wilayah ini masih perlu perhatian khusus. Pada musim kemarau sebagian sawah kekurangan air, sementara pada musim penghujan sering terjadi banjir, terutama di Dusun Ngrobyong, Darungan, dan Klampok.
Buku Profil Desa Jiwut
Kenali Desa Jiwut Lebih Dekat
Buku Profil Desa Jiwut memuat informasi lengkap seputar sejarah, kondisi geografis, kependudukan, potensi, hingga perkembangan pembangunan Desa Jiwut. Unduh atau baca langsung buku profil desa dalam format PDF berikut ini.
Buku profil desa belum diunggah.