Kantor Desa Jiwut

Tentang Desa

Visi & Misi

Visi

"Gotong royong, membangun Desa Jiwut yang jujur, adil, sejahtera, berbudaya dan berakhlak mulia"

Misi

  1. Mempublikasikan setiap anggaran kegiatan agar masyarakat mengetahui semua kegiatan pemerintah desa
  2. Melaksanakan musyawarah dusun untuk menampung aspirasi masyarakat
  3. Meningkatkan kapasitas perangkat desa
  4. Mewujudkan perekonomian dan kesejahteraan warga desa
  5. Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat desa yang maksimal
  6. Meningkatkan kehidupan desa secara dinamis dalam segi keagamaan dan kebudayaan

Sejarah Desa

Sejarah Desa Jiwut diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi, sering kali dikaitkan dengan kisah-kisah asal-usul tempat yang dianggap sakral. Desa Jiwut terdiri dari lima dusun, masing-masing punya riwayat asal-usulnya sendiri.

Asal Usul Wilayah

Foto Dusun Ngrobyong

Dusun Ngrobyong

Konon, dahulu di wilayah ini tumbuh sebatang pohon durian yang usianya sudah sangat tua, tingginya menjulang dan batangnya besar melebihi pohon-pohon di sekitarnya. Setiap kali musim berbuah tiba, buahnya begitu lebat dan rimbun (dalam bahasa Jawa disebut "ngrembuyung") hingga cabang-cabangnya merunduk menyentuh tanah. Karena kelebatannya itu, pohon durian tersebut bahkan bisa terlihat jelas dari daerah-daerah tetangga yang berjarak cukup jauh, sehingga dijadikan penanda arah bagi orang-orang yang hendak menuju ke wilayah ini. Dari kata "ngrembuyung" itulah, lambat laun masyarakat setempat menyebut wilayah ini sebagai Ngrobyong, sebuah nama yang tetap dipakai hingga sekarang sebagai identitas dusun.

Foto Dusun Darungan

Dusun Darungan

Kisah asal-usul dusun ini bermula dari seorang perantau asal Solo bernama Karso Suwito. Ia berangkat dari wilayah Ngrobyong dengan tujuan membuka lahan (babat alas) di sisi selatan, namun dalam perjalanannya ia justru tersesat dan terus terbawa hingga jauh dari arah yang ditujunya semula. Dalam bahasa Jawa, kondisi "terbawa arus" atau "tersesat tanpa arah yang jelas" ini disebut dengan istilah "kedlarung-darung". Karena peristiwa itulah, wilayah tempat Karso Suwito akhirnya menetap dan membuka pemukiman baru kemudian dikenal dengan nama Darungan, sebagai kenangan atas perjalanannya yang penuh liku tersebut.

Foto Dusun Klampok

Dusun Klampok

Wilayah ini pertama kali dibuka oleh seorang tokoh bernama Ngerpani, yang datang bersama ayahnya, Nurkaiman, untuk mencari lahan baru yang bisa digarap dan ditinggali. Saat menyusuri kawasan ini, mereka mendapati bahwa di area barat daya, tepatnya di sekitar yang kini dikenal sebagai Sumber Soko, tumbuh sangat banyak pohon klampok atau jambu yang berbuah lebat sepanjang tahun. Melimpahnya pohon klampok inilah yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus asal-muasal nama wilayah tersebut, yang hingga kini dikenal dengan nama Dusun Klampok.

Foto Dusun Jiwut

Dusun Jiwut

Nama dusun ini berasal dari keberadaan sebatang pohon Kuwut yang tumbuh tinggi menjulang dan berbatang besar di sisi tenggara wilayah. Yang membuat pohon ini istimewa adalah statusnya sebagai satu-satunya pohon Kuwut yang tumbuh di seluruh daerah tersebut, menjadikannya penanda alam yang unik dan mudah dikenali oleh warga sekitar maupun pendatang. Karena keunikan itulah, wilayah di sekitar pohon tersebut kemudian dinamai Jiwut, dan nama ini pula yang akhirnya dipakai sebagai nama Desa Jiwut secara keseluruhan, lengkap dengan lambang desa berupa Pohon Kuwut yang menjadi simbol identitas hingga hari ini.

Foto Dusun Bendil

Dusun Bendil

Berbeda dengan dusun lainnya, Dusun Bendil sebenarnya merupakan gabungan dari tiga wilayah yang awalnya memiliki sebutan masing-masing, yaitu Baran, Sumberjo, dan Bendil. Wilayah Baran mula-mula menjadi tempat menetap para perantau atau orang "boro" yang datang untuk bekerja di area sekitarnya. Sebagian besar dari mereka kemudian membuka lahan baru di dua wilayah lain: Sumberjo, yang namanya berasal dari ungkapan "sumbere rejo" karena daerah ini kaya akan sumber mata air yang menghidupi pertanian di sekitarnya, dan Bendil, yang terletak di selatan Sumberjo. Di wilayah Bendil ini, area persawahan setempat dikenal banyak dihuni ikan lele yang sering terlihat berkumpul (dalam bahasa Jawa disebut "ngendil"), sehingga daerah tersebut dinamai Bendil. Seiring waktu, ketiga wilayah dengan sejarahnya masing-masing ini disatukan menjadi satu kesatuan wilayah administratif yang kini dikenal sebagai Dusun Bendil.

Berdirinya Desa Jiwut diperkirakan pada pertengahan abad ke-18, diawali kedatangan pengembara dari Surakarta yang menempati wilayah Ngrobyong dan Baran. Kelompok di Baran membuka wilayah Jiwut, Sumberjo, dan Bendil, sementara kelompok di Ngrobyong membuka Darungan dan Klampok. Pada tahun 1895, kelima dusun tersebut resmi disatukan menjadi satu wilayah desa bernama Desa Jiwut, dengan lambang desa berupa Pohon Kuwut. Balai Desa pertama berada di Dusun Jiwut, tepatnya di lokasi yang kini digunakan sebagai Masjid Baitussalam.

Sejarah Pemerintahan Desa

Sebagai bagian dari Kecamatan Nglegok dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sistem pemerintahan Desa Jiwut mengalami beberapa fase perubahan mengikuti regulasi nasional:

1

Sebelum UU No. 5 Tahun 1979

Pemerintahan desa masih memakai tradisi lama dengan sebutan Lurah, Carik, Kamituwo, Kebayan, Jogotirto, Jogoboyo, dan Modin.

2

UU No. 5 Tahun 1979

Struktur pemerintah desa diseragamkan secara nasional: Kepala Desa (masa jabatan 8 tahun), Sekretaris Desa, Kepala Urusan, dan Kamituwo. Lembaga legislatifnya adalah Lembaga Musyawarah Desa (LMD).

3

UU No. 22 Tahun 1999

Masa jabatan Kepala Desa menjadi 2 x 5 tahun (10 tahun). Legislatif berubah menjadi Badan Perwakilan Desa (BPD).

4

UU No. 32 Tahun 2004

Masa jabatan Kepala Desa menjadi 6 tahun, Sekretaris Desa diisi oleh PNS Kabupaten. BPD berubah nama menjadi Badan Permusyawaratan Desa.

5

UU No. 6 Tahun 2014 — Sekarang

Masa jabatan Kepala Desa tetap 6 tahun, aturan ini yang masih berlaku hingga saat ini.

Daftar Kepala Desa Jiwut

No Nama Kepala Desa Masa Jabatan
1 Goeno Karijo Redjo 1895 – 1905
2 Iro Dikromo 1905 – 1922
3 Djoyo Sentono 1922 – 1932
4 H. Djaelani 1932 – 1949
5 Soeradji 1945 – 1972
6 Hadi Poernomo 1972 – 1989
7 Zaenudin 1989 – 1997
8 Muh. Fakih Hudin 1998 – 2013
9 Kasbolah 2013 – 2019
10 Yanwar 2019 – Sekarang

Tokoh yang Berpengaruh Terhadap Kemajuan Desa

Nama Tokoh Alamat Tahun Unsur
Sanusi RT2 RW8 1930-2005 -
H. Dimyati RT3 RW6 1935-1980 Agama
H. Danuri RT3 RW5 1935-1975 Agama
H. Achmad Soelaiman RT1 RW8 1940–1970 Agama
H. Achmad Dahlan RT3 RW5 1950–1985 Agama
H. Toyib RT2 RW8 1945–1985 Agama
H. Mudjadi RT1 RW9 1960–1985 Agama
Lehar RT2 RW10 1955–1990 -
Mujoharjo RT1 RW10 1955–1990 Petani
Teguh Daman RT3 RW3 1970–2002 Seni
Hono Wijoyo RT1 RW7 1980–sekarang LPPD
Abdul Azis RT2 RW2 1980–2002 LMD
H. Ichwanudin RT2 RW7 1980–sekarang Agama
Mawardi RT2 RW8 1985–sekarang Agama
H. Suryadi RT3 RW5 1985–sekarang LPPD
Zainudin RT1 RW4 1987–sekarang Agama
Sapon RT1 RW4 1990–sekarang BPD
Mu'anaf RT2 RW3 1990–sekarang Agama
Tami RT3 RW1 1990–sekarang Agama
Kasir Pujianto RT3 RW1 1990–sekarang Petani

Kondisi Geografis

409

Ha Luas Total

196.70

Ha Lahan Sawah

165.60

Ha Bukan Sawah

71.60

Ha Non Pertanian

Letak & Topografi

  • Koordinat7°21'–7°31' LS, 111°10'–111°40' BT
  • Ketinggian± 183 mdpl
  • TopografiDataran sedang
  • Curah hujan rata-rata811,41 mm/tahun
  • Jarak ke kecamatan1,7 km (± 5 menit)
  • Jarak ke kabupaten6 km (± 15 menit)

Batas Wilayah

Utara

Kelurahan Nglegok

Selatan

Kel. Sentul, Kec. Kepanjen Kidul, Kota Blitar

Barat

Desa Krenceng & Bangsri

Timur

Kel. Tawangsari & Desa Pojok, Kec. Garum

Pertanian & Pengairan

Sebagian besar sawah di Desa Jiwut menggunakan irigasi teknis, non-teknis, maupun sederhana. Tanaman padi ditanam pada musim penghujan, sedangkan jagung, sayur mayur, dan kacang tanah ditanam pada musim kemarau. Pengelolaan air di wilayah ini masih perlu perhatian khusus. Pada musim kemarau sebagian sawah kekurangan air, sementara pada musim penghujan sering terjadi banjir, terutama di Dusun Ngrobyong, Darungan, dan Klampok.

Buku Profil Desa Jiwut

Mockup Buku Profil Desa Jiwut

Kenali Desa Jiwut Lebih Dekat

Buku Profil Desa Jiwut memuat informasi lengkap seputar sejarah, kondisi geografis, kependudukan, potensi, hingga perkembangan pembangunan Desa Jiwut. Unduh atau baca langsung buku profil desa dalam format PDF berikut ini.

Buku profil desa belum diunggah.